Jumat, 28 Mei 2010

MANFAAT MONITORING DAN EVALUASI BAGI PERBAIKAN PROGRAM INOVASI PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Monitoring inovasi adalah kegiatan yang bertujuan mengetahui perkembangan pelaksanaan penyelenggaraan program inovasi, apakah sesuai dengan yang direncanakan atau tidak, sejauh mana kendala dan hambatan ditemukan, dan bagaimana upaya-upaya yang sudah dan harus ditempuh untuk mengatasi kendala dan hambatan yang muncul selama pelaksanaan program. . Pelaksanaan inovasi bukan hanya sekedar kegiatan tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa kepastian target. Kegiatan inovasi adalah sesuatu yang bertujuan untuk mencapai makna dan kemudian makna itu berguna bagi kepentingan pendidikan secara keseluruhan. Utamanya adalah untuk mencaai kualitas pendidikan yang selama ini didambakan.
Invovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi sekelompok orang atau masyarakat baik berupa hasil inverse atau discoveri yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.
Pendidikan adalah suatu sistem, maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan baik sistem dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun sistem dalam arti yang luas, misalnya sistem pendidikan nasional. Mattew B. Miller menjelaskan pengertian inovasi pendidikan adalah :
“To give more concreteness the universe called” educational innovations” same samples are described billow. They are organized according to the aspect of a social sistem they appear to be most clearly associated in most cases social sistem involved should be taken to be that of a school or cell although some innovations take place within the context of many larger sistem”
Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral dari pengolahan pendidikan, baik di tingkat mikro (sekolah), meso (Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi), maupun makro (Departemen). Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa dengan monitoring dan evaluasi, kita dapat mengukur tingkat kemajuan pendidikan pada tingkat Sekolah, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, dan Departemen.
Evaluasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Tanpa evaluasi , tidak ada alasan untuk mengatakan apakah suatu sekolah mengalami kemajuan atau tidak. Monitoring dan evaluasi, pada umumnya, menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Karena itu, monitoring dan evaluasi yang bermanfaat adalah monitoring dan evaluasi yang menghasilkan informasi yang cepat, tepat, dan cukup untuk pengambilan keputusan. Keberhasilan suatu program tidak dapat terlepas dari segi pelaksanaannya. Oleh karena itu, monitoring dan evaluasi terhadap suatu program akan menyangkut berbagai hal yang terkait, baik yang menyangkut kualitas masukan (input), kualitas proses maupun kualitas hasil pelaksanaan (output) program. Selain itu, monitoring dan evaluasi terhadap suatu program dapat dilaksanakan atas dasar sekuensi implementasinya, dapat pula dilakukan terhadap komponen programnya (Issac & Michael, 1981). Pendidikan memerlukan monitoring dan evaluasi secara intensif dan dilakukan secara terus-menerus. Dengan monitoring dan evaluasi, kita dapat menilai apakah sistem yang dijalankan benar-benar mampu meningkatkan mutu pendidikan. Jika pendidikan kurang berhasil, apanya yang salah? Karena itu, dengan monitoring dan evaluasi, kita juga dapat memperbaiki konsep dan pelaksanaan pendidikan.
B. Rumusan Masalah
Apakah manfaat monitoring dan evaluasi bagi perbaikan program inovasi pendidikan ?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui apa saja manfaat monitoring dan evaluasi bagi perbaikan program inovasi, yang bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi para pembaca sebagai pemerhati dan perduli terhadap pendidikan dalam melaksanakan tugas kesehariannya
BAB II
INOVASI PENDIDIKAN
A. Konsep Dasar Inovasi Pendidikan
Program inovasi pada hakikatnya adalah rencana untuk melakukan pembaharuan dan perubahan. Hal ini sesuai dengan inti pengertian inovasi yang merujuk kepada terjadinya perubahan dan pembaharuan. (Budi Sanjaya, 2008). Inovasi berarti suatu konsep perubahan atau pembaharuan, yang menyiratkan terjadinya kondisi yang berbeda dari sebelumnya. Nichols dalam Budi Sanjaya (2008) menyatakan, bahwa perubahan: ”...refers to continuous reappraisal and improvement of exixsting practice which can be regarded as part of the normal activity…. while innovation refers to…idea, subject or practice as new by individual or individuals, which is intended to bring about improvement in relation to desired objectives...” Perubahan merujuk kepada kelangsungan penilaian, penafsiran dan pengharapan kembali dalam perbaikan pelaksanaan pendidikan yang ada dan dianggap sebagai aktivitas biasa, sementara inovasi mengacu kepada ide, objek atau praktek sekelompok orang uang bermaksud untuk memperbaiki tujuan yang diharapkan. Inovasi pendidikan di sekolah merupakan program perubahan yang seyogyanya terjadi di lingkungan sekolah, antara lain meliputi perubahan dan pembaharuan dalam tenaga kependidikan, inovasi kurikulum, dan inovasi pembelajaran. Semua tindak inovasi itu dilaksanakan melalui serangkaian program yang dialksanakan secara prosedural. Tahapan prosedural program inovasi antara lain 1) tahap permulaan (initiation stage), 2) tahap implementasi. (Zaltman dan Udin, 2005). Tahap permulaan atau initiation stage terdiri atas dua hal antara lain : (1) Langkah pengetahuan dan kesadraan. Ini merupakan lengkah pengenalan program Inovasi kepada personil bersangkutan, bahwa di lingkungannya ada inovasi. Pengenalan ini penting untuk memberikan kesadaran bahwa di antara mereka, maksudnya di dalam lingkup kerja mereka ada sesuatu yang harus dilakukan berkenaan dengan perubahan dan pembaharuan. Dengan kata lain inovasi harus disarai keberadaanya oleh semua pihak, sehinga satu dengan lainnya terjadi kesinmabungan dan kesamaan pemahaman sebagai dasar untuk saling memberikan dukungan positip terhadap program inovasi. (2) Langkah pembentukan sikap terhadap inovasi. Langkah ini penting untuk mengetahui apakah inovasi bisa diterima atau tidak. Indikasi diterimanya sebuah inovasi terlihat pada hal-hal berikut :
A. Adanya sikap terbuka terhadap inovasi yang ditandai dengan : 1) kemauan anggota organisasi untuk mempertimbangkan inovasi, 2) mempertanyakan inovasi, merasa bahwa inovasi akan dapat meningkatkan kemampuan organisasi dalam menjalankan fungsinya.
B. Memiliki persepsi tentang potensi yang ditandai dengan adanya pengamatan yang menunjukkan 1) bahwa ada kemampuan bagi organisasi untuk menggunakan inovasi, 2) organisasi telah pernah mengalami keberhasilan pada masa lalu dengan menggunakan inovasi, 3) adanya komitmen atau kemauan untuk bekerja dengan menggunakan inovasi serta siap untuk menghadapi kemungkinan timbulnya masalah dalam penerapan inovasi.. Hasil dari langkah pembentukan sikap ini terindikasi dalam perilaku anggota organisasi untuk merubah sikapnya untuk menyesuaikan dengan kemauan organisasi. Jika inovasi yang ditawarkan ditolak, maka harus ada upaya perbaikan program. (3) Langkah pengambilan Keputusan. Pengambilan keputusan dilakukan setelah sebelumnya dilakukan evaluasi. Kekurangan yang ada diperbaiki,barulah kemudian diterbitkan keputusan inovasi. Keputusan ini ditindaklanjuti dengan implementasi. Tahap implementasi (implementation stage) dilakukan melalui dua tahapan antara : 1) langkah awal, yakni organisasi mencoba menerapkan sebagian inovasi. Misalnya guru ditugaskan membuat program inovasi pembelajaran berbasis ICT, inovasi diterapkan pada salah satu mata peajaran dulu, kemudia pada seluruh bagian mata pelajaran; 2) Langkah kelanjutan pembinaan penerapan inovasi, yakni merupakan langkah selanjutnya dari inovasi, setelah semua anggota organisasi mencapai komitmen untuk menerima inovasi. Pada seluruh tindakan inovasi, yang paling penting adalah tercapainya keberhasilan program itu. Untuk mencapai suatu keberhasilan, seyogyanya ada suatu upaya pengendalian porgram, yaitu melalui monitoring dan evaluasi program.
C. Faktor-Faktor yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan Supaya inovasi dalam pendidikan dapat diterima , faktor-faktor utama yang perlu diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, kurikulum dan fasilitas, lingkup social/masyarakat.
1. Guru , guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang dapat membentuk dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan penguasaan materi yang diajarkan, metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri. Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini seperti diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagi motivator dan lain sebagainya. (Wright 1987).
2. Siswa, sebagai obyek utama dalam pendidikan terutama dalam proses belajar mengajar, siswa memegang peran yang sangat dominan. Dalam proses belajar mengajar, siswa dapat menentukan keberhasilan belajar melalui penggunaan intelegensia, daya motorik, pengalaman, kemauan dan komitmen yang timbul dalam diri mereka tanpa ada paksaan. Hal ini bisa terjadi apabila siswa juga dilibatkan dalam proses inovasi pendidikan, walaupun hanya dengan mengenalkan kepada mereka tujuan dari pada perubahan itu mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan, sehingga apa yang mereka lakukan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dilaksanakan dengan konsekwen. Peran siswa dalam inovasi pendidikan tidak kalah pentingnya dengan peran unsur-unsur lainnya, karena siswa bisa sebagai penerima pelajaran, pemberi materi pelajaran pada sesama temannya, petunjuk, dan bahkan sebagai guru. Oleh karena itu dalam memperkenalkan inovasi pendidikan sampai dengan penerapannya siswa perlu diajak atau dilibatkan sehingga mereka tidak saja menerima dan melaksanankan inovasi tersebut, tetapi juga mengurangi resistensi/penolakan..
3. Kurikulum, kurikulum pendidin lebih sempit lagi kurikulum sekolah meliputi program pengajaran dan perangkatnya merupakan pedoman dalam pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Oleh karena itu kurikulum sekolah dianggap sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam proses belajar mengajar di sekolah, sehingga dalam pelaksanaan inovasi pendidikan, kurikulum memegang peranan yang sama dengan unsure-unsur lain dalam pendidikan. Tanpa adanya kurikulum dan tanpa mengikuti program program yang mengikuti program-program yang ada di dalamya, maka inovasi pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan tujuan inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam pembahruan pendidikan, perubahan itu hendaknya sesuai dengan perubahan kurikulum atau perubahan kurikulum diikuti dengan pembaharuan pendidikan dan tidak mustahil perubahan dari kedua duanya akan bejalan searah.
4. Fasilitas, fasilitas termasuk sarana dan prasarana pendidikan, tidak bisa diabaikan dalam dalam proses pendidikan khususnya dalam proses belajar mengajar. Dalam pembahruan pendidikan, tentu saja fasilitas merupakan hal yang ikut mempengaruhi kelangsungan inovasi yang akan diterapkan. Tanpa adanya fasilitas, maka pelaksanaan inovasi pendidikan akan bisa dipastikan tidak akan berjalan dengan baik. Fasilitas, terutama fasilitas belajar mengajar mengajar merupakan hal yang esensial dalam mengadakan perubahan dan pembahruan pendidikan. Oleh karena itu, jika dalam menerapkan suatu inovasi pendidikan, fasilitas perlu diperhatikan. Misalnya ketersediaan gedung sekolah, bangku, meja dan sebagainya
5. Lingkup Sosial Masyarakat. Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaklsanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik terutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu innovator dan pelaksana inovasi dalam melaksanakan inovasi pendidikan.
Adapun ciri-ciri monitoring yang baik adalah :
1. Monitoring yang baik dilakukan secara berkelanjutan, melibatkan instansi terkait dan fokus pada perkembangan pencapaian tujuan.
2. Melihat perkembangan program dan kerjasama tim dalam hal ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam mengambil keputusan dan kebijakan, pembelajaran dan sebagai bahan evaluasi.
3. Monitoring yang baik tergantung pada kualitas perencanaan.
4. Monitoring yang baik menuntut kunjungan secara berkala didukung dengan analisis perkembangan dan laporan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar